Oleh: fansmaniac | Maret 30, 2017

Suka Duka Membangun Bisnis Percetakan

Berawal dari hobby dibidang desain grafis, saat itu pada tahun 1998 saya masih duduk dikelas 2 SMA di kota kelahiran sy di Sanggau Kalbar.. Tak banyak yang punya komputer saat itu, paling yang ada cuma diperkantoran atau sekolah.  Saya mulai suka mendesain dan menggambar menggunakan Adobe Photoshop 5 dan Corel Draw versi 5 saat itu.  Tidak pernah terpikirkan oleh saya 20 tahun kedepan saya bakal mencintai profesi desain grafis ini.

Saat masih kuliah semester tiga di tahun 2000 saya sudah mendesain beberapa logo untuk kegiatan kampus, saat itu segala macam spanduk maupun stiker masih dibuat manual menggunakan sablon atau menggambar langsung pada bidang kain.  Saya pun mulai ngasyik dengan membuat berbagai poster dan dicetak pada printer inkjet (saat itu printer warna masih langka) dan foto pun masih harus menggunakan scanner agar bisa diolah di aplikasi komputer.

Akhirnya mulai tahun 2006 saya mencoba membuka percetakan kecil-kecilan, hanya menerima cetakan undangan dengan blanko dan itu pun masih dengan printer alakadarnya (pixma ip1000 kalo gk salah).  Repot juga bray, tiap print 50-60 saya harus mengisi tinta dengan cara meneteskannya di catridge alhasil tangan pun gk pernah gk belepotan tinta.  Dari pagi ketemu pagi saya jalani hanya untuk mencetak sekitar 1000 lembar undangan, dan itupun masih banyak yang gagal karena bergaris atau kehabisan tinta.  Belum lagi ketiduran saat ngeprint walhasil banyak sekali yang gagal.  Pernah saya coba berinovasi dengan membuat sistem infus pada tinta yang ternyata tidak saya duga ide ini berkembang di tahun 2010-an dimana sudah ada infus DIY yang dijual dipasaran.

Beranjak ke tahun 2008, saat saya baru menikah… bersama istri saya buka kembali percetakan kecil2an bersama istri.  Cetakannya pun tidak jauh dari undangan pernikahan, dan saya juga pede dengan memasang iklan di koran.  Alhamdulillah ternyata iklan itu cukup efektif, meski rumah saya jauh masuk kedalam gangtidak sedikit yang datang untuk memesan.  Dan hasilnya juga lumayan bisa beli AC dan Televisi.. sungguh rasanya senang sekali meski belum banyak menghasilkan.

Bangkit menuju lebih baik

Tahun demi tahun saya jalani dan Alhamdulillah percetakan saya sudah mulai sedikit demi sedikit berkembang meski tidak membuat saya kaya tetapi keasyikannya itu yang paling utama.  Dan sampai pada akhirnya di tahun 2016 saya mulai berani berinvestasi cukup besar untuk membuka percetakan dengan skala menengah.  Mesin pertama saya yakni Epson L1300 yang saya beli dengan harga 6 jutaan, lumayan ada 2 unit dan saya pun tidak segan untuk oprek2 printer agar bisa cetak di kertas art paper.

Masalah pun muncul ketika pesanan bertumpuk, printer inkjet yang saya gunakan tidak di desain untuk skala yang besar.. akhirnya saya keteteran karena antara waktu dan jumlah pesanan tidak pernah terkejar.  Tidak jarang pula pelanggan membatalkan pesanannya, akibatnya bulan demi bulan hanya kerugian yang saya dapat.  Apakah saya menyerah ? tidak… saya malah menginvestasikan dana untuk menyewa mesin cetak Fuji Xerox 2200.  Alhamdulillah mesin ini bandel sekali, kemampuan cetaknya juga luar biasa.. pekerjaan saya menjadi lebih cepat dan waktu yang diperlukan juga tidak lama untuk mencetak ribuan lembar.

Sejak saat itu Alhamdulillah pundi-pundi uang mulai mengalir kekantong saya, dan saya juga bisa berbagi dengan mempekerjakan 3 orang karyawan.  Meski lokasi saya menyempil didalam gang yang cukup susah dicari, Alhamdulillah pelanggan selalu datang dengan alasan saya buka kapan saja meski hari minggu atau libur.  Pernah ada yang pesan jam 1 malam dan saya selesaikan hingga bisa diambil pukul 8 paginya.

Membina Karyawan

Hal ini merupakan tantangan berat, karena karyawan yang saya ambil adalah mahasiswa dan anak muda biasa yang masih nol pengetahuannya dibidang percetakan.  Secara kerapian dan inovasi masih perlu saya bina karena terkadang pekerjaannya masih belum rapi dan sedikit ngasal.. maklum karena dikejar target.  Tapi apresiasi yang sangat besar saya ungkapkan untuk mereka karena mereka tidak pernah mengeluh, meski lembur sampai tengah malam, ngantar pesanan sana sini, makan tidak teratur namun mereka terus semangat.

Pengorbanan besar ini tidak sia-sia, kini mereka sudah pandai meski harus saya bimbing perlahan.  Tak jarang pula ketika saya sakit mereka lah yang memperhatikan saya, ngurutin, beli obat, ngerawat.. terharu saya karena bagi mereka saya adalah Bapak atau abang yang mereka sayangi.

Menghadapi Pelanggan

Ada beberapa type pelanggan yang saya sendiri tidak tahu mengapa seperti itu :

  • Banyak maunya, tapi pengen murah dan hasil bagus, nawar dengan harga yang jauh sekali (dikira kita ambil untung banyak kali wkwkk)
  • Pelayanan ingin diutamakan tetapi harga nego nya afgan (sadis)
  • Minta cepat tanpa lihat batasan waktu, bayar nya belakangan lagi aduhh.  Kadang pesan jam 8 pagi minta selesai sore dan minta antarin lagi kerumah.. cobaann
  • Nelpon tengah malam dan minta jadi besok pagi, dikiranya kita mesin kali ya wkwk gk pake tidur
  • Bilang kualitasnya jelek tapi minta harga yang paling murah, saya heran sudah tahu harga murah ya pastilah bahan dan kualitasnya juga murahan
  • Pelanggan nggak banyak nanya nggak banyak minta dan gk nawar2.. Alhamdulillah 100 banding 1 pelanggan kayak gini. Asyik banget dan saya juga layani dengan sebaiknya
  • Ngaku bakal langganan nego harga murah tapi ternyata hanya bual2an saja.  Banyak nih yang begini dibilang kami pasti langganan tapi ternyata cuma sekali pesan habis itu ngilang
  • Membandingkan dengan percetakan lain yang lebih maju dan besar.  Sebenarnya ini tidak masalah karena ya itu juga jadi pembanding kita dan memotivasi saya
  • Sudah desain sudah nego dan bayar tapi ngilang, banyak juga ni yang begini kadang kita bingung juga padahal dia sudah bayar tapi begitu kita minta acc cetak jawabannya nati belum pas rasanya

Mesin dan Peralatan Bermasalah

Kendala ini tidak pernah tidak saya hadapi mulai dari rusak harus ganti alat, sampai kualitas cetak yang kurang bagus.  Alhamdulillah berkat masalah ini saya jadi bisa membetulkan mesin sendiri dan bahkan menguasainya.  Bagaimana cara mereset printer, mengisi tinta, memperbaiki mesin sampai bagaimana cara mencetak agar warnanya pas.

Kadang kami juga memberikan nama pada mesin seperti Epsa, Epsi, Xery, Mery.. itu semua agar kami mencintai mesin yang menjadi modal utama dalam bekerja.  Ketika mesin itu pensiun ada rasa sedih juga, dan kalau dia bermasalah kadang kesal juga dan sampai pingin dibanting wkwkk.

Begitulah suka duka saya dalam membangun usaha percetakan, point pertama yang saya ketahui bahwa setiap usaha perlu ada inovasi dan karya kitalah yang membuatnya menjadi lebih berharga.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: